Sudah Siap Dengan Era Digitalisasi Konstruksi? (Part 4)- Implementasi BIM di Proyek

Sudah Siap Dengan Era Digitalisasi Konstruksi? (Part 4)- Implementasi BIM di Proyek - Setelah sekian lama tidak menulis tentang BIM (Building Information Modeling), akhirnya saya punya kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan lagi tentang penggunaan BIM. Jika pada artikel sebelumnya PART 3 lebih banyak cerita tentang apa saja keuntungan yang diperoleh dari penggunaan BIM, maka pada artikel ini akan berbagi tentang bagaimana cara menggunakannya di proyek. 

Saat ini rata- rata penggunaan BIM di Indonesia mulai banyak diterapkan pada proyek- proyek strategis nasional seperti Jalan Tol, Bendungan, Gedung Bertingkat, bahkan Dermaga/Pelabuhan.

Pada awal muncul teknologi BIM memang hanya dikenal di proyek-proyek besar swasta. Seiring berjalannya waktu, proyek-proyek pemerintah pun mulai mengikuti langkah perkembangan jaman dengan membuat beberapa regulasi BIM yang nantinya akan diterapkan pada proyek pemerintah. Memang sampai saat ini belum sepenuhnya regulasi itu belum diterapkan karena perlu persiapan dan pertimbangan yang matang.

Implementasi BIM di proyek
Di sisi lain perusahaan kontraktor sebagai penyedia jasa justru sudah mulai mengimplementasi BIM di proyek- proyek. Walaupun penggunaan BIM ini masih sebatas internal kontraktor itu sendiri, akan tetapi cukup efektif untuk membantu dan berkontribusi dalam menyelesaikan proyek.


Banyak hal yang bisa dilakukan dengan BIM di proyek antara lain quantity take off dan koordinasi. Selengkapnya akan dibahas secara lengkap di bawah ini.

1. Quantity Take Off

Kita semua tahu bahwa di proyek tidak akan pernah lepas dengan namanya perhitungan volume pekerjaan. Setelah kita menerima RAB dari owner, tentu langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung kembali atau cek volume tiap item pekerjaan. Volume pekerjaan ini harus akurat agar kita tidak rugi saat pelaksanaan. Jangan sampai volume di RAB lebih kecil dibandingkan dengan volume real. Volume real ini hanya bisa kita dapat dari model BIM. 

Berbicara tentang pemodelan BIM tentu banyak software yang bisa digunakan, ada berbagai software dengan kelebihan dan kekuranganya masing- masing. Yg jelas semua software bisa digunakan untuk perhitungan volume pekerjaan. 
implementasi BIM di proyek


Lalu apa bedanya antara perhitungan volume dengan BIM dan perhitungan volume tanpa menggunakan BIM  (konvensional)? Tentu banyak sekali perbedaannya antara lain perhitungan volume dengan BIM lebih cepat dan lebih akurat karena yang menghitung adalah program itu sendiri sehingga sangat meminimalisir kesalahan dalam menghitung. 

Implementasi BIM di proyek untuk Quantity Take Off antara lain
  • Estimasi volume di awal proyek atau MC - 0
  • Menghitung kebutuhan material seperti besi beton, beton ready mix, dan sebagainya.
  • Jika pada saat tender proyek, volume tersebut bisa digunakan untuk membandingkan antara volume owner dengan volume kontraktor. 
  • Untuk membuat Request pekerjaan ke konsultan pengawas. Biasanya jumlah volume dan gambar shopdrawing yang akan dikerjakan juga diminta dilampirkan. 
  • Rencana ke depan antara BIM dengan ERP akan disinkronkan sehingga semua volume di dalam ERP berasal dari BIM. 
  • Untuk monitoring volume pekerjaan struktur maupun pekerjaan tanah. contohnya saat opnam pekerjaan galian maupun timbunan akan memperoleh data ukur. Data ukur tersebut bisa digunakan untuk membuat 3D solid yang bisa dihitung volumenya. 
Cara menghasilkan volume di dalam model BIM sangat mudah. Dalam hitungan beberapa menit volume semua model bisa dihasilkan. Bahkan untuk software tertentu, langsung muncul BBS pembesian. 

2. Koordinasi 

Banyak yang belum memahami apa itu sebenarnya BIM. Kebanyakan mereka yang belum paham, BIM hanya sebatas animasi metode maupun visualisasi proyek. BIM justru lebih banyak digunakan pada saat pelaksanaan pekerjaan untuk berkoordinasi antara kontraktor dengan konsultan dan owner. Kendala saat ini adalah belum ada regulasi yang mengatur tentang BIM sehingga koordinasi sementara hanya bisa dilakukan di internal proyek misalkan Project Manager dengan Site Engineering Manager, Superintendent, Site engineering staff, QHSE, dan sebagainya. 

Koordinasi seperti apa yang dihasilkan dengan BIM? sebenarnya tidak ada yang berubah dengan cara koordinasi seperti biasanya. Yang berubah hanyalah alat bantunya. Alat bantu untuk koordinasi. Jika sebelumnya hanya koordinasi lewat Whatsapp atau lewat HT. BIM menyediakan layanan koordinasi dengan sistem penyimpanan cloud. Sebagai contoh produk dari Autodesk adalah BIM 360, produk dari Allplan adalah BIM Plus, dan masih banyak lagi. 
implementasi BIM di proyek

Keuntungan yang didapat jika kita berkoordinasi menggunakan BIM antara lain
  • Bisa membandingkan antara 3D model design dengan realisasi di lapangan
  • Proses koordinasi dari waktu ke waktu semua terekam dan bisa dijadikan sebuah laporan issue/ permasalahan di proyek
  • Data- data perbaikan di lapangan akan terdokumentasi dengan baik
  • Meningkatkan value personil tim proyek 
  • Setiap saat pekerjaan bisa dimonitoring melalui cloud dimana pun dan kapan pun berada. 
  • Mengurangi delay time saat memberikan informasi kendala di lapangan. Koordinasi BIM sifatnya real time sehingga lebih efektif. 
  • Bisa melihat gambar 3D shopdrawing tanpa harus punya software BIM. Selain itu juga bisa melihat parameter- parameter penting di dalam propertis seperti spesifikasi material, elevasi, volume pekerjaan, panjang, zona pekerjaan, segmen dan sebagainya. 
  • Semua personil proyek bisa melakukan koordinasi BIM tanpa harus bisa cara membuat gambar 3D model. 
  • Paperless, dalam berkoordinasi dengan BIM tidak menggunakan media kertas sehingga mengurangi penggunaan kertas gambar. 
  • Pada item pekerjaan tertentu seperti pemipaan, kita bisa menampilkan clash detection. 
Koordinasi menggunakan BIM akan jauh lebih efektif apabila setiap personil proyek didukung oleh kemampuan dan kemauan serta alat penunjang. Biasanya alat bantu yang digunakan untuk koordinasi di lapangan adalah tablet atau ipad. Alat tersebut kemudian diinstal software BIM 360 atau BIMplus. 

Cara koordinasi cukup mudah. Sebagai contoh gambaran menggunakan platform BIM 360, yang pertama kali perlu dilakukan adalah upload 3D model struktur maupun civilwork yang sudah final ke dalam BIM 360. 

Ketika akan berkoordinasi masalah desain cukup buka gambar 3D tersebut, kemudian buat Issue. Tentukan titik lokasi issue tersebut, tulis deskripsi permasalahan dan pilih Assign ke siapa. Otomatis permasalahan/issue tersebut akan sampai ke personil yang dituju. 

Jika ada permasalahan di lapangan, Create Issue , kemudian ambil foto lapangan sebagai lampiran issue. 

BIM 360 ini juga bisa digunakan untuk approval gambar dari kontraktor ke konsultan. Gambar shopdrawing maupun revisi bisa langsung ditujukan ke konsultan dan di tanda tangani secara digital. 

3. 4D Schedule

Schedule pelaksanaan merupakan bagian terpenting dari suatu proyek. Schedule merupakan acuan pelaksanaan pekerjaan kapan harus mulai dan kapan harus selesai. Biasanya schedule di proyek disajikan dalam bentuk bar chart atau kurva s yang dibuat dengan software Microsoft Project. Namun dengan BIM, schedule dapat disajikan secara 4D. Tujuannya adalah dapat dipahami dengan mudah oleh setiap orang.

4D schedule digunakan untuk menyajikan sequence tiap item pekerjaan. Dari sini kita bisa melihat ada tidaknya kewajaran dalam membuat schedule pelaksanaan. Selain itu kita bisa melihat secara visual rencana progres pelaksanaan di tanggal tertentu.

Cara mengimplementasikan di proyek adalah dengan mengkombinasikan antara schedule dari Microsoft Project atau pun Primavera dengan model 3D. Software digunakan untuk membuat 4D schedule sangat banyak antara lain Naviswork, Synchro, dan lain- lain. 
implementasi BIM di proyek

4. Operasional

Pada proyek- proyek investasi, penggunaan BIM ini sangat cocok dari awal perencanaan, pelaksanaan hingga operasional. Pada saat pemodelan BIM, kita memasukkan parameter- parameter penting dalam 3D solid. Parameter tersebut berisi tentang spesifikasi material, lokasi pekerjaan, zona, segmen, elevasi, volume ataupun informasi lain yang dianggap penting. 

Salah satu kelebihan dari penggunaan BIM ini adalah informasi-informasi parameter dalam gambar tersebut tidak akan hilang walaupun berganti- ganti software lagi. Bahkan jika kedepan ada teknologi baru lagi, gambar 3D solid akan tetap terintegrasi. 

Penggunaan BIM saat operasional bangunan diantaranya adalah untuk pengembangan ataupun maintenance bangunan. Kita tidak perlu repot lagi mencari-cari data bangunan lama seperti spesifikasi, ukuran, volume dan sebagainya. 

itulah beberapa contoh implementasi BIM di proyek. Sebagian besar implementasi BIM di proyek adalah untuk koordinasi dan pembuatan database bangunan yang bisa diintegrasikan dengan baik. 

Semoga menginspirasi...

0 Response to "Sudah Siap Dengan Era Digitalisasi Konstruksi? (Part 4)- Implementasi BIM di Proyek"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

youtube

Iklan Bawah Artikel