Benarkah Pandemi mempercepat proses digitalisasi konstruksi?

Pandemi mempercepat proses digitalisasi konstruksi- Pada saat ini kita banyak mendengar istilah pandemi. Pandemi adalah penyakit yang menyebar luas secara geografis meliputi berbagai negara (internasional) dan susah dikendalikan. Tidak ada hubungannya dengan tingkat mematikan suatu virus tersebut.  Salah satu pandemi yang terjadi saat ini adalah virus covid 19. Virus ini hampir terjadi di semua negara. Virus ini menular dengan cepat dan ditularkan antar manusia melalui melalui kontak fisik dan droplet. 

Pandemi virus corona telah membuat sebagian besar umat bumi mengalami perubahan yang drastis baik dari segi ekonomi, gaya hidup, kebijakan politik dalam negeri, bahkan teknologi. Virus corona berjenis covid 19 ini mulai muncul bulan November 2019 di Wuhan China. Para ilmuwan awalnya menduga virus ini berasal dari hewan kelawar yang dijual di sebuah pasar hewan di Wuhan, namun pada akhirnya ada bantahan terkait sumber virus yaitu ada kemungkinan asal usul sumber penularan bukan hanya dari pasar hewan di Wuhan. 

Salah satu perubahan yang terjadi adalah interaksi antar manusia dan penggunaan teknologi. Interaksi antar manusia merupakan salah satu penyebab penularan terbesar apabila tidak ditangani dengan serius. Ada berbagai upaya untuk mengurangi interaksi atau kontak antar manusia yaitu wajib Phisycal distancing, Lock down, dan PSBB (Pembatasan sosial berskala besar). Di Indonesia sendiri telah menerapkan Phisycal distancing, PSBB dan menerapkan protokol kesehatan. Kondisi ini memaksa masyarakat harus menggunakan teknologi yang lebih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti rapat dengan sistem online, belanja online, bekerja secara online, belajar secara online, dan sebagainya. 

Bidang Konstruksi

Di dunia konstruksi juga tidak ketinggalan dengan bidang lain. Penggunaan teknologi semakin meningkat drastis. Seperti yang kita tahu bahwa sebelum pandemi kita mengenal beberapa rencana pemerintah untuk menerapkan industri 4.0 dengan target- target waktu yang ditetapkan. 

Yang menarik adalah sebagian orang masih acuh tak acuh dengan teknologi- teknologi konstruksi yang baru. dan ketika terjadi pandemi, justru semua ikut bergerak karena tuntutan. 
Dalam hati saya sebagai penulis artikel ini adalah enak ya pemerintah program 4.0 dibantu oleh wabah penyakit. 

Sebelumnya saja juga sudah menulis tentang digitalisasi konstruksi yang berjudul "Sudah siap dengan era digitalisasi konstruksi Part 1, Part 2, Part 3, dan Part 4". Selengkapnya bisa baca di link tersebut. 

Kita mengenal beberapa teknologi konstruksi masa depan antara lain BIM (Building Information Modeling), 3D printing, IoT (Internet Of Thing), AI (Artifical intelligence), Robotic, Big Data dan sebagainya. Semua teknologi tersebut sudah ada dalam roadmap pemerintah tentang industri 4.0. 

Lalu apa yang menarik ?

Bukankah itu adalah teknologi yang memang sudah ada dan biasa aja? memang betul teknologi konstruksi itu sebenarnya di belahan negara lain menjadi hal yang biasa diterapkan karena memang teknologi itu muncul duluan di sana dibanding di Indonesia. Anda tentu masih ingat dengan salah satu faktor lambatnya perkembangan digitalisasi konstruksi adalah Pola berpikir (Mind Set). 
Secara tidak langsung Pandemi ini mengubah Mind Set Sebagian besar orang dari yang gaptek menjadi melek teknologi.
Mengapa Pola berpikir menjadi kunci utama berkembangnya suatu negara. Pembangunan SDM yang berkualitas dan visioner akan menguntungkan dari berbagai hal. Di dunia konstruksi, SDM dan sistem dijadikan sebuah penentu berlangsungnya suatu perusahaan di masa pandemi seperti ini. Kita tahu bahwa dampak dari pandemi ini adalah banyak pengusaha besar maupun UKM mengalami kerugian sehingga mulai diterapkan pengurangan karyawan secara besar- besaran. Hal itu dikarenakan tidak siapnya sebuah sistem dan pola berpikir dalam mengantisipasi sebuah gangguan yang akan datang (disrupsi). 

Dari segi individual, kita diuntungkan dengan penggunaan teknologi online yang sangat massive terutama di bidang Konstruksi.

Hal ini membuat kita sadar bahwa sudah saatnya kita meninggalkan cara lama dan beralih ke cara baru yang lebih efektif dan tetap produktif

Kondisi Saat Ini di Perusahaan Konstruksi

Beberapa dampak pandemi di dalam suatu perusahaan adalah pengeluaran biaya yang lebih banyak dari biasanya untuk menerapkan sistem protokol covid. Protokol kesehatan ini memang harus diterapkan di semua lini baik pemerintahan maupun swasta. Pengeluaran biaya pencegahan tentu tidak sebanding jika nyawa karyawan menjadi taruhannya. Berikut beberapa poin kondisi di perusahaan konstruksi. 
  1. WFH (Work From Home), WFH ini adalah kegiatan bekerja di rumah masing- masing dengan menggunakan teknologi online. Di awal pandemi hampir semua perusahaan menerapkan WFH full semua karyawan selama kurang lebih 2-3 bulan

  2. New Normal, Kebijakan new normal mulai diterapkan oleh kementrian BUMN dan kementrian lainnya sekitar awal bulan Juni 2020. Di perusahaan konstruksi sendiri di tahap awal new normal, semua kegiatan produksi mulai berjalan seperti biasanya dengan tetap menerapkan sistem protokol kesehatan yang ketat. Misalkan karyawan yang masuk kantor harus kurang dari 60% dari kapasitas yang biasanya. Sehingga tetap diterapkan sistem shift. 

  3. Hasil produksi belum maksimal. Beberapa pihak ada yang mengeklaim semua berjalan lancar, dan ada yang terang- terangan mengalami penurunan. Fakta di lapangan memang kondisi saat ini dipaksa harus mengeluarkan biaya tak terduga untuk sistem protokol kesehatan terutama perusahaan konstruksi. Peningkatan biaya tak terduga dan penurunan hasil produksi berpengaruh terhadap keuntungan perusahaan. Dampak yang mungkin terjadi kepada karyawan adalah penundaan bonus dan bahkan peniadaan bonus bagi karyawan. 



Digitalisasi Konstruksi

Di atas sudah sedikit disinggung mengenai teknologi konstruksi. Proses digitalisasi konstruksi merupakan bagian dari teknologi konstruksi di masa depan. Jika kita mengenal biasanya kegiatan konstruksi di lakukan dengan cara konvensional maka proses digitalisasi konstruksi lebih mengedepankan sistem digital dan online. Cara ini dipercaya lebih cocok untuk kondisi VUCA ( Volatility, Uncertain, Complexity, Ambiguity). Di mana banyak ketidakpastian pada kejadian- kejadian yang akan datang.  
Berikut beberapa poin dampak positif pandemi terhadap proses digitalisasi konstruksi

1. Online Meeting
Fenomena rapat online sudah muncul dimana- mana semenjak pandemi. Hal ini memang disarankan oleh pemerintah mengurangi kegiatan tatap muka. Salah satunya adalah dengan menggelar rapat secara daring menggunakan beberapa aplikasi antara lain Zoom, Microsoft team, team viewe, google meet, skype for business, dan masih banyak lagi.

Beberapa manfaat menggunakan rapat online adalah persiapan tidak banyak cukup materi rapat dan internet, Waktu yang digunakan lebih efektif, rapat bisa dilakukan di mana pun, dan tidak perlu menggunakan biaya yang tinggi untuk persiapan rapat. 

Dari penjelasan di atas kita tahu bahwa orang yang selama ini gaptek pun juga sudah bisa mengoperasikan aplikasi meeting online. Biasanya rapat online di perusahaan konstruksi mengenai rapat koordinasi bulanan antar kantor divisi dan proyek, rapat antar proyek dengan owner, rapat negosiasi harga dengan supplier atau subkon. 

2. Webinar
Sebelum masa pandemi, seminar biasa dilakukan secara tatap muka dalam suatu ruangan. Kini pada masa pandemi, seminar dilakukan secara online atau live. Saat ini banyak sekali brosur dan poster yang berkeliaran di sosial media tentang webinar gratis yang isinya adalah membahas dunia konstruksi. Biasanya di lakuka oleh vendor, swasta maupun pemerintah untuk melakukan sharing knowledge. Contoh webinar yang sering dilakukan adalah dari pemerintah Kementrian PUPR melalui Dirjen Bina Konstruksi. Dan masih banyak lagi. 

Hal ini mendorong setiap orang menjadi lebih paham manfaat penggunakan media online. 

3. Cloud Storage
Cloud storage adalah metode penyimpanan di server yang disediakan oleh penyedia layanan dan hanya bisa diakses dengan koneksi internet. Sebelum masa pandemi, orang tidak paham dan tidak tertarik menyimpan data- data pekerjaan di Cloud. Karena mungkin banyak yang tidak mengira disrupsi itu akan datang. Kondisi saat ini memaksa semua orang harus bekerja di rumah atau di mana pun selain di kantor. Betapa ribetnya jika kita lupa membawa data pekerjaan kita yang tertinggal di kantor. Dengan menggunakan Cloud, kita tidak perlu khawatir kemana pun pergi kita bisa akses data pekerjaan kita. 

Beberapa layanan cloud storage yang sering digunakan di bidang konstruksi antara lain Onedrive, google drive, dropbox, iCloud, dan sebagainya. 

4. CDE (Common Data Environment)
Merupakan suatu sistem berbasis cloud storage yang digunakan sebagai tempat penyimpanan sebuah data yang bisa diakses oleh banyak user dalam waktu yang sama. Semua informasi proyek dan koordinasi antar personil bisa dilakukan di platform tersebut. Jika kita sudah mengenal Building Information Modeling (BIM) tentu kita akan familiar juga dengan CDE ini. 

Dengan menerapkan CDE di suatu proyek atau lingkungan tertentu, maka setiap data dan koordinasi akan terekam di dalam CDE. Kita bisa buka dimana pun dan kapan pun. Pada masa pandemi seperti ini tentu kita diuntungkan dengan teknologi CDE ini karena kita tetap bisa memonitoring progres proyek meskipun tidak datang ke proyeknya. 

4. Big Data
Sangat penting sekali pada masa pandemi kita mempunyai big data yang mampu menyediakan data secara open source. Sebagai contoh pemerintah mempunyai data- data teknis geologi di seluruh Indonesia yang dikumpulkan di dalam sebuah platform. Semua orang yang membutuhkan data tersebut tinggal mengambil secara online tanpa harus survey ke lokasi. Sangat bermanfaat bukan?

Saat ini big data juga masuk dalam roadmap industri 4.0 di pemerintah. Jadi kita tunggu saja ya. 


5. Internet Of Thing (IoT)
Jika mendengar istilah ini tentu anda sudah bisa berpikir bahwa Internet bisa melakukan banyak hal. Benar sekali, tidak ada definisi secara pasti tentang IoT. Yang jelas teknologi Iot bisa dikatakan suatu objek yang memiliki kemampuan mentransfer data melalui jaringan tanpa melalui perantara dari manusia ke manusia atau manusia ke komputer. Di bidang konstruksi sangat banyak sekali objek yang menggunakan teknologi ini misalkan pada smarthome, pengaturan pintu jendela secara otomatis, lampu dengan sensor, dan lain sebagainya

6. Aplikasi
Efek pandemi ini banyak sekali hal kreatif yang muncul terutama penggunaan aplikasi- aplikasi untuk mempermudah pekerjaan. Salah satu contoh yang paling terlihat adalah penggunaan aplikasi berbasis Self Service bagi para karyawan. Sebelum pandemi, masih banyak yang menggunakan absensi keberangkatan dan pulang kerja dengan sidik jari /pin. Setelah pandemi, semua wajib menggunakan aplikasi untuk absensi kehadiran. Ini adalah contoh kecil betapa besar dampak dari pandemi ini terutama dari sisi individual. 


Kesimpulan

Sebenarnya masih banyak lagi mungkin perubahan digitalisasi konstruksi akibat dari pandemi ini. Poin pentingnya adalah 

Pandemi ini membuat setiap orang mempunyai kebiasaan baru yang akan mengubah pola berpikir dan cara pandang terhadap situasi yang akan datang. 

Salah satu tantangan proses digitalisasi konstruksi mungkin sudah terjawab dengan sedikit bantuan pandemi ini. Namun bagaimana dengan tantangan lainnya?

Bersambung...



0 Response to "Benarkah Pandemi mempercepat proses digitalisasi konstruksi? "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

youtube

Iklan Bawah Artikel